BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Jumat, 29 April 2011

Friend




Aku, sendiri. Duduk sendiri. Tepat disudut kelas. Diam. Hanya diam. Dengan daguku yang ku tumpu dengan kedua telapak tanganku, aku memanda pada satu titik. Entah itu apa. Aku sudah lupa. Aku hanya diam disana. Duduk sendiri dengan back sound suara-suara teman-temanku diluar sana. Ada yang tertawa, ada yang hanya sekedar berbincang-bincang.
Aku terdiam. Lalu tiba-tiba semua suara itu hilang. Aku terbawa oleh khayalanku. Aku membayangkan bagaimana jika nanti semuanya telah selesai. Lalu semua pergi. Sibuk dengan urusannya masing-masing. Lalu aku? Bagaimana aku? Aku yang hanya selalu menggantungkan diriku dengan mereka. Tidak tau apa yang aku harus lakukan nanti.
Setelah semua selesai. Sebelum mengatakan Good Bye. Aku ingiiiiiiiiiiiinnnnnnnn sekali memeluk kalian dan berbisik 'I believe you and I could never really say goodbye'. Tidak bisa ku bayangan berapa juta ember airmata yang aku keluarkan pada saat itu. Semua airmata yang selama ini hanya ku tahan akan keluar semua.

"Hei!"
Tiba-tiba seorang temanku mengagetkan ku dari semua lamunanku. Dan tidak sadar ternyata aku sudah mengeluarkan air mata. Dengan segera aku hapus air mataku, dan tersenyum padanya.
"Hei, sory tadi lagi ini eh apa" Aku kebingungan memilih kata-kata.
"Ah, sudahlah. Ayo kita pulang!"
"Okay"

Sampai saat ini jika aku menemukan saat-saat luang dan tepat. Air mata itu keluar begitu saja. Mengalir dengan santainya melewati pipiku dan terjatuh di bajuku. Lalu beberapa menit kemudian segera aku hapus air mataku agar tidak ada yang mengetahuinya. Lalu segera aku tersenyum pada diriku sendiri, dan berbisik 'Kita tidak akan berpisah'.

Sabtu, 23 April 2011

Dukaku hanya jadi tontonan



Namaku Suratri. Aku adalah salah satu korban dari bencana Merapi 26 Oktober 2010 lalu. Aku bertempat tinggal di desa Umbulharjo. Aku seorang ibu dengan 6 orang anak dan 1 orang suami.
Sebelum Merapi memuntahkan 'kemarahannya'. Aku dengan anak bungsu ku dilarikan ke posko. Lalu suamiku dan dan kelima anakku menyusul. Tapi Tuhan berkata lain. Awan panas menerjang desaku. Lalu diikuti dengan lahar panasnya. Desaku hancur. Termasuk rumahku. Keluargaku hilang ditelan awan panas dan lahar panas.
Sekarang, aku menggantungkan hidupku dengan berjualan minuman dengan gubuk kecil di sebelah sisa-sisa rumahku. Aku dengan seorang anak bungsuku yang selalu ku gendong. Karna aku tidak mau kehilangannya seperti aku kehilangan yang lain. Di sisi gubuk kecilku kutiliskan sebuah kata-kata.
Nama saya Suratri, seorang ibu yang kehilangan 6 orang anggota keluarga akibat bencana Merapi 26 Oktober 2010
Demi mendapatkan belas kasih orang-orang yang berkunjung ke sana. Kadang aku berpikir 'Dukaku hanya menjadi tontonan'.

Selasa, 19 April 2011

Pulang


Musim kini berlalu, berbagai cerita merayu..
Berpijak di malam yang bertalu..
Masihku memikirkan dirimu..
Ku rasakan waktu berlalu tanpa senyummu..
Sepi yang tlah penuhi hariku..

Hari ini sayang, aku akan pulang..
Berlabuh di dekap cintamu..
Karna pelukmu akan selalu membuat diriku jatuh cinta..

Dalam riuh suasana menyapa kian menggoda memanja..
Semua itu tak akan berarti..
Selama ku jauh dari dirimu..
Pernahkah kau merasa berdiri di tempat yang sama..
Seperti saat ini ku ada, rindukan nyaman ku ingin segera pulang..

Diriku jatuh cinta..


Andien.

Senin, 18 April 2011

Andai Aku Bisa

Lihat gambar ukuran penuh

Ditingkahi hujan gerimis yang tak kunjung bosan menciumi rerumputan itu, masih teringat bayang-bayang dirimu. Dirimu yang dulu selalu menemani hari-hari ku. Dirimu yang dulu selalu menyandarkan kepalaku dibahumu saat aku merasa sedih. Dirimu yang dulu selalu mengantarku pulang setelah selesai kuliah. Dirimu yang dulu selalu ku bangga-banggakan didepan teman-temanku. Dirimu yang slalu kupuja atas kebaikanmu, atas ketulusanmu mencintaiku *pikirku*.
Tapi kini dirimu. Dirimu yang dulu selalu, yang dulu selalu, selalu. Kini telah hilang. Lenyap. Tak tau arah perginya. Tak berbekas. Yang berbekas hanyalah, bayanganmu. Bayanganmu yang dulu selalu menyertai hidupku.
Kini dirimu sudah tidak bisa kuharapkan lagi. Ingin aku membeli sebuah alat pengatur waktu. Dan akan aku ulang waktu ke masa-masa dimana aku dan kamu masih dapat bersama. Mengulangnya dari awal. Andai aku bisa.....