BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Selasa, 19 November 2013

Baik-baik saja

Kadang, pada satu titik kita harus berhenti, walaupun tak ingin. Lalu mengapa harus? Karena didepan kita terdapat jurang yang tingginya melebihi langit ke-tujuh. Kamu pasti akan mati jika berlajan lurus. Pilihan yang diberikan hanya maju tanpa memperdulikan jurang itu atau berjalan berbelok melalui percabangan.

Pada pagi yang sama, aku terbangun, namun yang menyapa hanya sepi. Sebenarnya aku sudah mempersiapkannya kemarin sebelum aku berjalan menjauh dari tempatmu berpijak. Aku tahu ini pasti akan terjadi. Walaupun aku tahu aku akan menghadapinya dengan susah payah. Tapi perpisahan yang ku putuskan sepihak tetaplah menghasilkan luka. Luka yang kurasakan sendiri. Kamu? Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan tentang perpisahan sepihak ini. Mungkin kamu sedih atau mungkin kamu malah bahagia.

Kita akan tetap baik-baik saja.aku akan melakukan hal seperti biasanya; bangun, bekerja, kelelahan, lalu tidur meski itu tanpa sapaanmu. Lalu kamu akan melakukan rutinitasmu seperti biasanya.  Aku akan memiliki waktu untuk lebih banyak membaca buku. Aku akan mendapatkan bahasa baru. Aku akan sering menulis. Aku akan menuliskan cerita kita dalam cerita-ceritaku. Akan ku tulis kau dalam lakon yang samar.
Lalu kita akan bertemu di lain hari, nanti. Pada pagi yang cerah seperti yang pernah kita janjikan. Kamu akan terlihat begitu senang dan bersemangat. Kamu akan memelukku dan mencium keningku untuk melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam. Lalu kamu akan mengajaku makan dan menonton konser kesukaanmu.

Setelahya, kita akan menuju parkiran mobilmu dengan hanya menggunakan sebuah buku brosur yang diberikan mba-mba SPG. Saat itu hujan, dan hanya itu yang kita punya. Kamu akan memeluk bahuku sangat erat. Lalu kita akan berlari dibawah hujan dan buku brosur. Sesaimpainya didepan rumahku kamu tidak akan membiarkanku keluar sebelum kau mengecup keningku. Lalu setelah masuk ke dalam rumah aku akan segera mengirimkanmu pesan “hati-hati ya, hati.” Lalu kamu akan membalasnya seusai kau sampai di rumah.

Cinta, seperti katamu, bukan siapa yang lebih dulu datang atau lebih lama tinggal. Tapi siapa yang dapat terus bertahan dalam pergantian musim yang kekal. Kau tahu, tidak ada salahnya mendendam. Itu manusiawi. Semua orang hidup dari dalam dendam, lalu menemkan kompensasi untuk membalas dendam, seperti itulah hidup selalu berjalan. Seperti kau sekarang, seperti aku, seperti orang lain. Kita menghidupi dendam dengan nafas masing-masing.

Akulah perempuan yang tidak pernah memintamu berjanji untuk selalu meneleponku, berjanji untuk selalu mengirimkanku pesan, berjanji untuk selalu memberikan kejutan disetiap tanggal jadi kita, berjanji untuk selalu mengantar dan menjemputku. Aku tahan dengan semua kejutan sifatmu. Tetaplah membuatku menebak-nebak apa yang ada dipikiranmu.

Bila aku berhenti sekarang, itu bukan karena aku tak mencintaimu lagi. Aku justru sedang bertahan dalam pergantian musim yang kekal, menguji ketabahan, dan membuktikan bahwa ini semata-mata bukan lelucon semesta. Aku hanya akan melihatmu dari kejauhan, (sekali lagi) menuliskanmu dalam lakon yang samar, mendoakanmu setiap malam, belajar untuk tidak impulsif, dan menerima semua ini sebagai takdir yang indah. Tidak. Aku tidak sebijak itu sebenarnya.

Rahasia

Xxx, xxx xxxxx?

Xxx xxxxxx. Xxxx xxxxxx xxxxxxxxxxxxxx. Xxxx xxxx? 
Xxx xxxxxxxx. Xxxxxx.
Xxx xxxxx xxxxxx xxxxxxxxx xx. 
Xxx xxxxxxxx.
Xxxx, xxxxx xxxxx xxxxxxxx xxxxxxx xxxxx?
Xxx xxxxxxxx xx xxxxx xxxxx xxx xxxxxxxxxxx xxxxxxx.
Xxx xxxxxxx, xxxxxxx xxx.

Xxxxxxxx Xxxxx Xxxxxxxxx 

bila aku berhenti sekarang, itu bukan karena aku tidak mencintaimu lagi.

aku justru sedang bertahan dalam pergantian musim yang kekal, menguji ketabahan, dan membuktikan bahwa ini bukan semata-mata lelucon semesta.
aku hanya melihatmu dari kejauhan, (sekai lagi) menuliskanmu dalam lakon yang samar, mendoakanmu setiap malam, belajar untuk tidak impulsif, dan menerima semua ini sebagai takdir yang indah.

tidak. aku tidak sebijak itu sebenarnya.