Kadang, pada satu titik kita harus
berhenti, walaupun tak ingin. Lalu mengapa harus? Karena didepan kita terdapat
jurang yang tingginya melebihi langit ke-tujuh. Kamu pasti akan mati jika
berlajan lurus. Pilihan yang diberikan hanya maju tanpa memperdulikan jurang
itu atau berjalan berbelok melalui percabangan.
Pada pagi yang sama, aku terbangun, namun
yang menyapa hanya sepi. Sebenarnya aku sudah mempersiapkannya kemarin sebelum
aku berjalan menjauh dari tempatmu berpijak. Aku tahu ini pasti akan terjadi. Walaupun
aku tahu aku akan menghadapinya dengan susah payah. Tapi perpisahan yang ku
putuskan sepihak tetaplah menghasilkan luka. Luka yang kurasakan sendiri. Kamu?
Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan tentang perpisahan sepihak ini. Mungkin kamu
sedih atau mungkin kamu malah bahagia.
Kita akan tetap baik-baik saja.aku akan
melakukan hal seperti biasanya; bangun, bekerja, kelelahan, lalu tidur meski
itu tanpa sapaanmu. Lalu kamu akan melakukan rutinitasmu seperti biasanya. Aku akan memiliki waktu untuk lebih banyak
membaca buku. Aku akan mendapatkan bahasa baru. Aku akan sering menulis. Aku akan
menuliskan cerita kita dalam cerita-ceritaku. Akan ku tulis kau dalam lakon
yang samar.
Lalu kita akan bertemu di lain hari,
nanti. Pada pagi yang cerah seperti yang pernah kita janjikan. Kamu akan
terlihat begitu senang dan bersemangat. Kamu akan memelukku dan mencium
keningku untuk melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam. Lalu kamu akan
mengajaku makan dan menonton konser kesukaanmu.
Setelahya, kita akan menuju parkiran
mobilmu dengan hanya menggunakan sebuah buku brosur yang diberikan mba-mba SPG.
Saat itu hujan, dan hanya itu yang kita punya. Kamu akan memeluk bahuku sangat
erat. Lalu kita akan berlari dibawah hujan dan buku brosur. Sesaimpainya didepan
rumahku kamu tidak akan membiarkanku keluar sebelum kau mengecup keningku. Lalu
setelah masuk ke dalam rumah aku akan segera mengirimkanmu pesan “hati-hati ya,
hati.” Lalu kamu akan membalasnya seusai kau sampai di rumah.
Cinta, seperti katamu, bukan siapa yang
lebih dulu datang atau lebih lama tinggal. Tapi siapa yang dapat terus bertahan
dalam pergantian musim yang kekal. Kau tahu, tidak ada salahnya mendendam. Itu manusiawi.
Semua orang hidup dari dalam dendam, lalu menemkan kompensasi untuk membalas
dendam, seperti itulah hidup selalu berjalan. Seperti kau sekarang, seperti
aku, seperti orang lain. Kita menghidupi dendam dengan nafas masing-masing.
Akulah perempuan yang tidak pernah
memintamu berjanji untuk selalu meneleponku, berjanji untuk selalu
mengirimkanku pesan, berjanji untuk selalu memberikan kejutan disetiap tanggal
jadi kita, berjanji untuk selalu mengantar dan menjemputku. Aku tahan dengan
semua kejutan sifatmu. Tetaplah membuatku menebak-nebak apa yang ada
dipikiranmu.
Bila
aku berhenti sekarang, itu bukan karena aku tak mencintaimu lagi. Aku justru
sedang bertahan dalam pergantian musim yang kekal, menguji ketabahan, dan
membuktikan bahwa ini semata-mata bukan lelucon semesta. Aku hanya akan
melihatmu dari kejauhan, (sekali lagi) menuliskanmu dalam lakon yang samar,
mendoakanmu setiap malam, belajar untuk tidak impulsif, dan menerima semua ini
sebagai takdir yang indah. Tidak. Aku tidak sebijak itu sebenarnya.

0 komentar:
Posting Komentar