BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 19 Oktober 2013

Menunggu



Butuh panas pada secangkir kopi untuk melarutkan gula. 
Ada kenikmatan yang muncul kemudian saat kita bertanya sampai kapan harus menunggu.
Aku tertawa hingga menangis.
Aku tertawa hingga menangis.
Aku menertawakan diriku yang selalu menunggu.
Aku menertawakan diriku yang tidak pernah lelah menunggu.
Lalu aku menangis ketika panas pada secangkir kopi tidak lagi terasa hangat.
Dingin.
Lalu aku menangis ketika gula yang kutaburkan pada secangkir kopi tidak lagi dapat terlarut.
Pahit.

Saya akan menunggu kamu, selama saya masih melihat kemungkinan kamu akan datang.

Jogjakarta, Malam Minggu
Sambil menunggu hujan reda

Aku ini siapa?

Duet with AHRachim

Aku jatuh padamu. Aku lebam.
Tapi aku tidak pernah berharap untuk kembali berdiri.
Walau tahu, tanganmu tidak akan berusaha menangkapku seperti dulu.
Jutaan anak rambutku rindu usapan hangat telapak tangan lembutmu.
Dan hati ini merindukan pemilik yang menghujaninya dengan rasa.
Namun kini yang tertinggal hanya asa.
Seperti gerimis, aku jatuh perlahan-lahan kepadamu.
Membasahi perlahan, jangan sampai membuatmu luka.
Tapi badai datang menggantikan gerimis.
Airnya jatuh begitu deras.
Aku terluka, sementara kamu membiarkannya.
Aku tidak merasakan apa-apa selain perih melihatmu pergi.
Lebam, luka, perih, apalagi yang aku butuhkan agar kamu kembali?
Mati?
Apa aku harus menjadi awan agar bisa menemanimu setiap hari?
Menjadi angin yang setia membawamu kemana saja?
Menjadi tanah kering yang harus selalu pasrah menunggu sampai hujan datang?
Menjadi pohon yang kau ajak ke kanan ke kiri tanpa tahu tujuan yang pasti?
Apa kau bisa menjawab? Agar aku berhenti menggenggam asa.
Apa jika aku sudah menjadi semua, masihkah kamu menyisihkan tempat untukku disana?
Jangan tanya dimana, dihatimu sudah pasti.
Bukan disisimu seperti hewan kecil yang kau tak lihat.
Hey kamu! Coba jawab, aku ini siapa?

Senin, 14 Oktober 2013

kau sudah tahu

kau harusnya sudah tahu. membaca bukanlah hobiku. aku membaca hanya untuk mencari dunia lain dan cerita lain agar aku tidak terlalu terpuruk dengan apa yang sedang kuhadapi sekarang ini.
kau harusnya sudah tahu. saat kekhawatiran datang tanpa permisi. saat itu pula aku dengan segera membaca buku. apapun itu.
kau harusnya sudah tahu. saat aku mencoba masuk kedalam cerita suatu buku, aku berjuang mati-matian. karena setengah detik saja aku lengah. kekhawatiran tentangmu itu datang lagi. bahkan akan semakin mengerikan.
kau harusnya sudah tahu. saat kekhawatiran itu terlihat begitu mengerikan. air didalam tubuhku akan berlarian keluar melalui celah-celah dimataku.
kau harusnya sudah tahu. aku tidak bisa melupakanmu. bahkan hanya setengah detik saja.
kau harusnya sudah tahu. saat aku memeluknya, seluruh sel dalam tubuhku menyebutkan namamu.
kau harusnya sudah tahu. aku tidak suka hujan. aku menari-nari dibawahnya hanya agar kau tidak melihat air yang perlahan-lahan keluar dari celah mataku.
kau harusnya sudah tahu. aku tidak hobi menulis. aku melakukannya hanya untuk menyampaikan rindu yang tidak pernah sempat kusampaikan kepadamu.
kau harusnya sudah tahu. aku tidak suka sibuk. aku tidak suka menjadi orang yang dipenuhi jadwal disetiap tanggal. aku melakukannya hanya untuk meredakan rindu.