Duet with AHRachim
Aku jatuh padamu. Aku lebam.
Tapi aku tidak pernah berharap untuk kembali berdiri.
Walau tahu, tanganmu tidak akan berusaha menangkapku seperti
dulu.
Jutaan anak rambutku rindu usapan hangat telapak tangan
lembutmu.
Dan hati ini merindukan pemilik yang menghujaninya dengan
rasa.
Namun kini yang tertinggal hanya asa.
Seperti gerimis, aku jatuh perlahan-lahan kepadamu.
Membasahi perlahan, jangan sampai membuatmu luka.
Tapi badai datang menggantikan gerimis.
Airnya jatuh begitu deras.
Aku terluka, sementara kamu membiarkannya.
Aku tidak merasakan apa-apa selain perih melihatmu pergi.
Lebam, luka, perih, apalagi yang aku butuhkan agar kamu
kembali?
Mati?
Apa aku harus menjadi awan agar bisa menemanimu setiap hari?
Menjadi angin yang setia membawamu kemana saja?
Menjadi tanah kering yang harus selalu pasrah menunggu
sampai hujan datang?
Menjadi pohon yang kau ajak ke kanan ke kiri tanpa tahu
tujuan yang pasti?
Apa kau bisa menjawab? Agar aku berhenti menggenggam asa.
Apa jika aku sudah menjadi semua, masihkah kamu menyisihkan
tempat untukku disana?
Jangan tanya dimana, dihatimu sudah pasti.
Bukan disisimu seperti hewan kecil yang kau tak lihat.
Hey kamu! Coba jawab, aku ini siapa?

0 komentar:
Posting Komentar