BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Rabu, 15 Desember 2010

Heaven

Seperti warna pelangi,
bersinar dari kedua bola matamu, oh
Bagaikan cahya mentari,
kau hangatkan duniaku,
kau untukku, oh

Jika memang adanya
aku dan kamu
kita bahagia, oh
Jadikanlah cerita
kita berdua
untuk selamanya, oh

Bagai surga duniawi
kurasakan hidup ini bersamamu
Tak kumenghitung hari
sejak engkau di sini
aku memang untukmu,

Jika memang adanya
aku dan kamu
kita bahagia
Jadikanlah cerita
kita berdua
untuk selamanya, oh

Jika memang adanya
aku dan kamu
kita bahagia
Jadikanlah cerita
kita berdua
untuk selamanya, oh

You, sent from heaven
Heaven, feels like you

Jika memang adanya
aku dan kamu
kita bahagia
Jadikanlah cerita
kita berdua
untuk selamanya, oh

Jika memang adanya
aku dan kamu
kita bahagia
Jadikanlah cerita
kita berdua
untuk selamanya, oh

Tentang Dia

Aku tersenyum.....
Melihat indah senyummu yang buat diri ini bahagia.
Aku tertawa.....
Menyaksikan tawa candamu yang selalu dapat buat aku senang.

Rasa ini adalah rasa yang selalu muncul ketika kau ada disampingku.
Merangkul tubuhku dengan segenap bahagia yang kau ciptakan untukku.
Mengangkat wajah ku yang enggan tertawa atau tersenyum,
karena beban pikiran yang buat aku diam.

Aku tertawa..
Melihat indah dirimu dari dalam jiwamu.
Tenang mu yang selalu buat ku hangat disampingmu.
Sungguh aku bahagia dikala terus berjalan disisimu.
Memandang lekat wajahmu,
hingga tak bosan bibir ini memuji.
Menyaksikan dekat harum tubuhmu,
hingga tak bosan aku berdiri dibelakangmu
walau hanya untuk terus menarik napas panjang untuk berdecak kagum akan harumnya tubuhmu.

aku bahagia......
menyaksikan wajah malaikatmu menyejukan hari-hariku.
terus bersamaku.
jangan tinggalkan aku.
karena sebenarnya hati ini sangat mencintaimu.

dalam sebuah kembang meja

hari ini musim semi..
tempatnya bermain pelangi,,
sebelum kata-kata mulai mengawal serangkaian serdadu seratus satu...
episode pertama bertatap muka dengan kembang kemangi senja...

aku menatapmu...
bukan berarti aku serius menelanjangi pikiranmu...
kata itu haram antara kita..
aku sudah berjanji tak mengucapnya
walau harus dihukum menulis keseratus pikiranku tentangmu
dengan hanya segumpal darahku...

ada retorika yang magis diantara kita...
pertemuan kedua yang terlampau menjangkau bilangan prima ke sejuta.
hari ini,
yang belum terselesaikan untuk ku deskripsi..
celangkup wajahmu..
tak sanggup aku melucuti onak itu ..
di kerudung yang membingkai subliman tangismu..

3 detik kita saling melihat..
kau berlari sekejap seakan ku tak pernah dekat...

*****

Kamis, 09 Desember 2010

Kamu

Di luar hujan belum juga reda. Kamu masih saja berkutat dengan laptopmu. Entah apa yang kamu kerjakan. Buka facebook ?, update status twittermu ?, menulis satu gagasan di blogmu atau mungkin mengerjakan tugas rutinmu sebagai seorang copy writer.

Seperti seolah tak menyoalkan seberapa deras hujan di luar sana, matamu lekat menatap layar 17 inchimu. Lekat, dekat seperti tak ingin tertinggal sedetik pesan yang dibawakan. Tapi matamu ? menyimpan lelah yang panjang. Entah lelah tentang jalan hidupmu yang penuh kepatahatian atau lelah karena telah terjangkit virus-virus di dunia maya ?. Entahlah.

Sebenarnya kamu bisa saja meletakan sebentar waktumu kemudian berbaur dengan tawa canda temanmu di luar sana yang melewatkan malam dengan gelak tawa dan cerita gembira lainnya. Biar hati dan pikiranmu bisa rehat sejenak dari kegundahan dan kegelisahan jiwa yang (menurutmu) takkan pernah berujung. (mungkin buatmu hanya berujung pada kematian ?).

Tapi pribadimu yang senang patah hati (upss !) 'mengajakmu' untuk berdiam diri di dalam ruangan 4 x 6 m ditemani dengan alunan piano Jim Brickman, Stefano Bollani, John Lewis atau lagu-lagu melankolis lainnya.
Diam, dan membiarkan anganmu yang terbang ke awang-awang dalam alur daya khayalmu.

Mungkin kamu butuh seorang sahabat. Sahabat yang mau duduk di sampingmu, tanpa perlu berkata apa-apa. Menggosok bahumu bila kamu sedih. Memberikan senyum lembutnya. Selalu mengangguk untuk setiap permintaanmu. Membuatkan kopi hangat buatmu. Lalu menemanimu untuk diam. Sahabat diammu.

Kamu tidak perlu memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Karena apa yang kamu lakukan, menurutmu adalah yang paling baik. Paling nyaman mungkin buatmu. Sehingga apapun yang dikatakan orang lain di luar sana seperti kalimat tak bersuara buatmu. Masa Bodo, katamu !.

Hujan hampir reda di luar sana, tapi kamupun tetap tak perduli. Juga bulan sudah ada di November, sebentar lagi Desember dan sebentar lagi tahun telah berubah. Juga umurmu, jatah hidupmu. Tapi - lagi, lagi - kamu tak kan perduli.

Kamu hanya hidup dengan dirimu, laptopmu, blackberrymu, cangkir kopimu juga heaternya, ruangan 4x6m mu dan angan-angan liarmu. Hmmm aneh !

Jejak yang (harus) dihapus




Pelan-pelan kuhapus jejakmu,



jejak yang - mulai - tak lagi berjejak...

Rabu, 08 Desember 2010

Tanpamu..

Memiliki hubungan dengan orang yang tidak disetujui olah keluarga memang sangat berat. Berat sekali. Untuk meleoaskannya sangatlah berat. Tapi jika mempertahan kan hubungan itu pasti kena marah oleh keluarga. Jalan satu-satunya adalah diam-diam. Itu yang kualami saat ini. Memiliki hubungan dengan seorang laki-laki yang jelas-jelas tidak disukai oleh ayahku. Terpaksa aku menjalankan semua ini dengan sembunyi-sembunyi. Agar ayah ku tidak tau. Aku udah terlanjur cinta sama dia. Yaah.. Yang namanya cinta mau dipain lagi.

Sebenarnya aku tau alasan mengapa ayahku tidak mengijinkan ku dengannya. Karna dia memang orangnya sedikit 'nakal'. Tapi aku yakin aku bisa merubah itu semua. Sudah kutekatkan dalam hati untuk merubahnya. Dan menunjukan pada ayah, bahwa dia bukanlah anak 'nakal'.

Hari semakin hari terus berjalan. Aku masih saja mempertahankan hubunganku dengannya. Keluarga ku tidak ada yang tau. Satu pun tidak ada yang tau. Dan dia pun tidak protes. Karna sudah ku jelaskan bahwa sebenarnya ayahku tidak menyukainya. Dan dia mengerti itu. Dia pun berusaha untuk berubah dan mencoba buktikan pada ayah bahwa dia bukan anak 'nakal'.

Aku senang dia sudah bisa berubah. Yang dulu lebih senang keluyuran sekarang sudah mulai sering dirumah mengerjakan hal yang lebih penting. Yang dulu nggak pernah sholat sama sekali. Sekarang dia rajin sekali sholat. Bahkan lebih sering sholat di masjid. Aku sangat senang. Aku merasa berhasil. Aku merasa aku memang cocok untuknya. Aku merasa lebih sempurna. Dapat merubahnya sampai sejauh itu. Aku merasa orang yang paling bahagia di dunia ini.

1 tahun kemudian

Dia berubah. Dia 'kumat'. Kembali menjadi seperti dlu lagi. Seperti yang tidak disukai oleh ayahku. Bahkan dia sudah mulai tak mempedulikanku. Seperti ada orang lain. Waktu terus berjalan. Dan waktu yang menjawab semua. Ada orang lain didalam ini semua. Yang merubah semuanya. Merubah hasil kerja kerasku selama ini. Dirubah begitu saja. Tanpa memkirkan seberapa sulit semua ini ku kerjakan. Semua hilang tak berbekas sama sekali. Aku mulai bingung. Aku tidak tau harus bagaimana lagi. Sudah cukup lelah aku selama ini. Dan akhirnya. Dia yang memutuskan hubungan ini berakhir sampai disini. Tanpa bekas sedikitpun dia meninggalku demi seseorang yang menghancurkan semua ini. Semua hilang. Dia meninggalkanku disini... Sendiri.... Hanya seorang diri didunia yang luas ini. Hidupku serasa berakhir. Berakhir sampai disini. Hanya sampai sini. Entah apa masih ada hidup lagi atau tidak. Aku tidak tau. Aku hanya bisa diam.. Diam... dan Diam...
Memikirkan nasibku sendiri.... Tanpamu...

Dia.. Masih Mencintaimu..

Saat ini aku sedang dekat dengan seseorang. Bisa di katakan aku mencintainya. Sudah cukup lama aku mengetahui keberadaanya. Dia satu sekolah denganku. Tetapi beda kelas. Aku mengenalnya. Benar-benar mengenalnya beum lama ini. Kita mulai dekat. Mulai ngobrol bareng. Dan berteman di berbagai macam jenis jejaring sosial yang aku miliki. Dan yang memberatkan ku saat ini adalah. Mantan. Mantan dari laki-laki yang saat ini aku cintai. Sepertinya dia belum bisa melepas mantannya begitu saja. Bahkan dia seperti menuduhku sebagai perebut pacar orang lain. Itu label yang sangat buruk untukku.

Kadang aku ingin memutuskan untuk melepaskan laki-laki itu agak kembali ke mantannya. Tapi itu berat. Aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Saat ini yang aku lakukan hanyalah diam. Membiarkan waktu yang akan menjawabnya. Dan berusaha merubah image ku didepan mantan dari laki-laki itu. Yaah.. Semoga semua berjalan dengan baik. Tekadang juga aku merasakan rasa kasian dengan mantan laki-laki itu. Yang mencintai tanpa mendapatkan balasan. Aku hanya ingin menjelaskan padamu -laki-laki yang ku cintai- bahwa Dia.. Masih Mencintaimu..

Romansa Jogjakarta

Kita bertemu di bawah senja yang telah menua tiga tahun lalu dan Jogjakarta begitu elok saat aku bersembunyi di balik punggungmu yang sarat liku pilu. Rindu sepekan yang kutahan tamat sesaat berganti riuh gaduh detak jantungku. Untuk pertama kali sejak delapan tahun berpisah, kembali aku bisa menyentuh kulitmu sehabis diterpa semilir angin dan pipiku merona seketika. Oh, lunglai kakiku diserbu ngilu yang berasal dari pintu hati. Tak bisa kupendam sumringah. Dan aku tahu, untuk bersamamu, aku tak perlu bermimpi dulu. Aku sudah jatuh cinta. Jatuh cinta sudah.

Resmi kuberikan hati tanpa basa-basi dan kau tukar dengan ingatan bergaransi seumur hidup. Ketika pelukanmu mengisyaratkan kesendirian diantara dua kota, aku berharap ini tak akan lama. Kita bisa lebih rindu dari hari ini. Atau bahkan tidak saling merindukan lagi karena semuanya mendadak basi. Tapi, aku tak peduli. Kamu, satu-satunya yang pernah memastikan hatiku, yang bahkan tak sebaik pemiliknya.

Ketika malam merambat perlahan, rupanya kita sama-sama tak ingin berpisah terlalu awal dan buru-buru mengucapkan selamat tidur. Aku telah menyitamu lebih lama dari dugaan kita. Canda tawa tak kunjung usai. Dan, diam-diam, kusimpan nafasmu dalam sel-sel darahku. Aku tahu ini tak akan lama. Temaram yang berasal dari sinar bulan memberiku petunjuk bahwa kamu lebih tampan dari ksatria berbaju besi dalam mimpiku. Bagaimana aku bisa bosan? Bahkan saat amarahmu berada di ujung bibir, daya pikat itu tak jua menyublim. Aku tak pernah bosan padamu, sama halnya dengan aku tak pernah bosan mencintaimu. Bila ternyata itu memberatkan, kamu boleh tidak mencintaiku. Tapi jangan membenci aku.

Berkali-kali kujejakkan kaki tanpa sepengetahuanmu, Jogjakarta masih menyapaku sahaja meski kutatap dengan nanar. Kadang-kadang. Ya kadang-kadang. Tapi, tak ada yang berubah. Aku masih berharap kita bisa bertemu di depan Gang Gondolayu, saling beku, dan tersenyum kaku. Tak apa. Aku masih berharap suatu hari kita berada di satu pameran buku, menjumput buku yang sama, berpandangan, lalu bergerak kikuk. Tak apa. Aku masih berharap kita berpapasan di jalan atau bertemu diatas Trans Jogja yang sedang melaju, berpandangan, lalu urung tersenyum. Tak apa. Aku masih berharap kita bisa saling mengobati setelah pelajaran panjang yang melelahkan ini, mengamit lenganmu lagi, dan duduk diam sambil mendengarmu mengumpat.

Senja tiada dalam sekejap. Angkasa bersenandung mendung. Aku yang berdiam di dalam taksi disambut rintik hujan. Mendadak pucat. Masih kuingat jelas kebekuan itu.
“Masuk!” katamu dingin. “sudah lama?”
“Dua jam”
“Oh..” Kamu menghela nafas berat. Aku pun demikian.
Percakapan kering itu, begitu menyesakkan dan membuat kepalaku kekurangan udara. Aku yang duduk di tepi tempat tidur, hanya mampu memandangi punggungmu yang lebih dingin dari embun pagi.
“Ini.. Terima kasih” Kamu sodorkan bukuku yang hendak kuinventariskan selamanya dalam kamarmu. “Aku belum sempat cari info dan brosur”
“Tidak apa-apa, Aku bisa cari sendiri nanti”

“Kemana, Mbak?” Tiba-tiba sopir taksi membangunkan aku dari lamunan.
“Kemana saja, Pak. Putar-putar saja dulu”
Aku sering tak tahu kemana tujuanku ketika kakiku memijak kotamu. Yang kutahu, kota ini selalu menarik-ulur aku untuk kembali. Selebihnya, hanyalah pengharapan-pengharapan kosong yang mungkin akan terjadi. Tapi, mungkin juga tidak.

Dari dalam taksi kutatapi jalanan mulai basah. Hujan kian deras. Orang-orang yang berkendara motor menepi, ada yang berteduh, ada yang mengenakan jas hujan. Kaca berembun. Pemandangan di luar sana perlahan mengabur. Aku belum juga memutuskan tujuan. Aku tidak tahu. Lalu kuambil ponselku. Kupasang status pada situs jejaring sosial.

Terdampar di Jogja tanpa tujuan, enaknya kemana?

Budi Sojoko: Malioboro aja, Jeng!
Geeta imoet bangetz: Oleh2 dunk, mba,,,,
Dina Atmodjo: beli buku di shopping atau belanja batik aja hehe
-sTeLLaNyaGLeNN-: m4Li0BoR0 ja, k4k. . . bliin ST3LLa baKpi4 eaaaa =D
Arrie: gang pathuk!
Popo: Gang Gondolayu, rumah depan kuburan!

“Gondolayu, Pak. Turun depan gang saja. Makasih”
“Ya”

Dan sopir taksi menambah volume radio. Mataku memejam, kutarik nafas delapan hitungan, kutahan delapan hitungan, dan kuhembuskan delapan hitungan. Lalu aku tersenyum pada ramahnya kotamu yang diguyur air langit.

Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung hitam tiba

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah, lalu gerimis langit
pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Dan bukan menyerah untuk berpisah…
(KLa Project – Gerimis)


oleh: Sepotong Rindu Untuk Embun ( http://catastrovaprima.wordpress.com/ )

Senin, 06 Desember 2010

Menghilang..

Pada awalnya aku tak mengenal dia. Sama sekali tak mengenal. Aku malah sedikit menghindar. Karna dia terlihat seperti preman yang biasanya berada di terminal-terminal itu. Hii aku takut melihatnya. Namanya Dimas. Tinggalnya persis di depan kamar kos ku. Umurnya sekitar 23 tahun. Kuliah di salah satu Universitas swasta di Yogyakarta. Hanya itu yang aku tau dari laki-laki yang bernama Dimas berbadan tinggi besar.

Minggu ini aku memutuskan untuk mengisi hari dengan duduk di teras depan kos ku. Menikmati secangkir kopi dan menulis blog seperti hari-hari biasanya. Tiba-tiba terdengan suara motor. Seperti ada yang datang. Biarlah. Aku tak peduli. Setelah aku lihat. Hah? Aku terbengong kaget. Ternyata yang datang adalah Dimas. Penghuni kamar kos depan kamarku. Padahal aku takut dengan tampangnya. Aku coba untuk sedikit tenang. Berpura-pura untuk tidak takut. Dia melewatiku. Aku sedikit meliriknya. Dia diam saja dan langsung masuk kedalam kamarnya. Hufft.. Aku baru bisa bernafas lega setelah orang itu lewat. Langsung ku lanjutkan saja lagi kerjaanku yang sempat terputus. Karna baru saja ada 'monster' yang lewat. Haha. Sebenernya si Dimas itu cakep juga ya? Tapi nyeremin. Hahaha. Pikirku dalam hati.

"Hallo"
Tiba-tiba ada yang mengejutkanku dengan menepuk bahuku dari belakang. Dan ternyata itu adalah Dimas. Aku kaget setengah mati. Rasanya jantungku ini mau copot melihatnya.
"Eh.. Ha- Ha- Hallo juga"
Balasku dengan gugup dan deg degan. Panas dingin aku dibuatnya.
"Lagi ngapain nih?"
Dengan santanya dia langsung duduk di kursi persis disebelahku sambil bertanya padaku.
"Eh.. Ini lagi, ini apa, online aja, hehe"
Aku jawab sabil garuk-garuk kepala bingung.
"Oh, hobi online ya? haha"
Aduh bego! Nih orang ngapain lagi nanya-nanya ke gue. Udah tau gue takut sama dia. Jawabku dalam hati.
"Eh kok diem aja sih? Jawab dong. Eh iya, nama kamu siapa?? Aku Dimas"
Katamu sambil menyodorkan tanganmu.
"Hmm.. Aku aku Putri"
Ku sodorkan tanganku.

Setelah perkenalan jayus itu aku dan Dimas sering ngobrol-ngobrol. Entah itu masalah nggak penting. Masalah motor. Masalah kopi. Dan apa pun yang sebenernya nggak penting untuk dibicarain.

"Lo jatuh cinta ye sama Dimas?" Sentak sahabatku setelah aku curhat dengannya mengenai Dimas.
"Eh gila ya lo! Enggak lah. Dia tuh nyeremin tauk!"
"Ah udah deh lo ngaku aja, gue udah apal ciri-ciri lo kalo lagi jatuh cinta. Udah ngaku aja"
Aku nggak bisa bilang apa-apa. Aku cuma bisa diem aja. Cuma mikirin. Apa gue bener jatuh cinta sama Dimas?

Waktu pun terus berputar. Kedekatanku dengan Dimas semakin dekat. Seperti ada hubungan khusus diantara kita. Teman. Ah bukan, sepertinya lebih dari seorang teman. Pacar. Bukan juga, dia tidak pernah mengungkapkan rasa cinta atau apa kepadaku. Apa lagi menembakku.

Semakin hari dia semekin sering mengajakku jalan. Entah itu sekedar makan. Atau jalan-jalan di mall. Atau membeli baju di FO. Bahkan kita pernah membeli baju yang kembar. Seperti seorang soulmate. Hihi

Tapi satu hari yang tidak pernah aku duga. Dan tidak pernah aku inginkan datang. Dia pergi menghilang entah kemana. Tanpa meninggalkan sepucuk surat untukku. Tanpa mengirimkan sms. Ataupun telpon. Aku sangat bingung. Aku mencarinya sampai keluar kota. Ke Kudus. Tempat asal seorang laki-laki yang selalu menemaniku setiap saat. Tapi hasilnya nol besar. Tidak ada yang tau keberadaan dia dimana. Aku sudah bertanya kepada ibu kos ku. Dia bilang setelah membayar biaya kok sebulan dia langsung berkemas-kemas dan pergi. dan kemana aku? Mengapa aku diam saja? Tidak mendatanginya. Tapi kenapa kamu nggak bilang au dulu Dimas? Tanyaku dalam hati. Setiap hari aku mencarinya. Sampai aku cari di kampusnya. Teman-temannya tidak ada yang tau di mana dia sekarang. Dan akhirnya aku menyerah. Aku tidak tau harus mencarinya dimana.

"Put, kamu kenapa?"
Tanya seorang teman dekatku. Aku hanya menggeleng. Sambil ku tekuk dan ku peluk lututku. Aku hanya diam.
"Kamu nggak pernah berangkat kuliah. Nggak pernah sms aku. Nggak pernah online lagi sekarang. Nggak pernah perigi-pergi lagi. Kamu nggak pernah ketawa. Kamu kenapa sih?"
Sekali lagi aku hanya menggeleng.

Aku telah kihilangan sebagian dari hidupku. Sebagian dari nafas ku. Sebagian dari hari-hariku. Sekarang semuanya telah hilang. Hilang entah kemana. Di telan bumi mungkin. Yaah.. Mungkin saja.

Jumat, 03 Desember 2010

Kembali dan Menghilang

Jantungku berdegup tak karuan, darahku seperti tersumbat tak mengalir setelah mendengar perkataan mama tadi, "Mama tidak setuju kalau kamu dengan Krystin itu Dib" Mama menggetakku "Agamanya berbeda dengan kita! Pokoknya mama nggak setuju, titik." Tubuhku tergeletak lemas di atas sofa. 'mama tidak menyetujui hubunganku dengan Krystin, dan mama Krystin pun tidak setuju jika Krystin pindah ke agamaku (islam)'

Pikiranku seperti berputar tak karuan, aku selalu memikirkan tentang hubunganku dengan Krystin. Dia sudah seperti bagian dari hidupku. Dan jika aku melepasnya, mungkin itu rasanya seperti melepaskan jantungku sendiri.

Untuk memulihkan pikiranku aku berpikir untuk pergi menuju Coffee shop langgananku. Sesampainya disana aku langsung menduduki meja yang sering aku dan Krystin duduki. Aku memesan cofee yang sering dipesan oleh Krystin. Cukup sederhana Capucino latte. Tetapi rasanya sudah mewakili seorang gadis yang bernama Krystin yang sudah lama ada dalam kehidupanku. Dan kini entah bagaimana aku tak ingin menyimpulkannya begitu cepat.

Hujan turun dengan deras. Tapi aku tetap dengan kegiatanku sebelumnya. Merenung. Akau tak tahu lagi harus bangaimana. Aku coba untuk melihat diluar jendela. Aku seperti melihat sosok perempuan yang aku kenal. Sangat aku kenal. Sebentar. Itu Krystin. Ya itu Krystin! Untuk apa dia kesini? Biasanya dia kesini hanya kalau aku ajak saja. Aku bertanya-tanya dalam hati. Kristin mulai masuk kedalam coffe shop lalu dia membersihkan bajunya yang sedikit basah karena air hujan. Setelah itu dia langsung melihat ke arah tempat duduk dimana aku dan dia sering berkunjung. Dan disitu tempat dimana aku duduk saat ini.

Krystin sangat terkejut. Aku pun bingung melihatnya. Akhirnya dia yang menyapaku dulu.
"Hai!"
Sapanya. Aku pun membalas.
"Hai Krystin!"
Lalu dia mendekat kearahku. Dan duduk persis didepanku. Tanpa basa-basi dia langsung nerocos aja nanya.
"Gimana? Udah bilang sama mama?"
Karna sebelumnya Krystin tau bahwa aku akan bercerita pada mama tentang hubunganku dengannya. Dengan terbata-bata aku menjawab.
"ah, eh belum belum, kemaren mama lagi sibuk banget...jadi aku belum cerita deh"
"oh gituya? oke deh"
Jawab Krystin sambil tersenyum menatapku.
"Eh ngomong-ngomong kok tumben kamu pesen coffee latte, itu kan kesukaanku, haha"
Ledek Krystin. Krystin memang orang yang paling riang dan cerewet yang pernah aku kenal. Dia juga cantik. Jadi wajar kalau banyak laki-laki yang menyukainya. Dan bisa sampai setres memikirkanya. Seperti aku contohnya.
"Ah iya nih lagi pengen aja, hehe"
Jawabku sedikit bingung.


Yaah mugkin itu adalah sebagian dari kisah hidupku yang sangat mengesankan. Saking mengesankannya sampai saaat ini pun aku masih mengingatnya. Kira-kita itu adalah kejadian 14 tahun yang lalu. Sebelum aku menikah dengan istriku yang sekarang. Dan sebelum Krystin hilang kontak dengaku karna dia pindah ke Jepang untuk meneruskan karirnya. Aku punya surat untuknya. Yang tak pernah ku kirim ataupun menulisnya.

Dear Krystin,
Aku sangat mencintaimu Krystin
Sampai saat ini cintaku tak berkurang sedikitpun
Saat ini aku sudah memiliki istri yang seagama denganku
Pernikahan kami berlangsung karna perjodohan dari kedua orang tua kami
Maaf kan aku Krystin juka sebelumnya aku tidak cerita kepadamu

With Love,
Adib

Dan apa kalian tahu. Belum lama ini aku menemukan wanita yang mirip dengan Krystin. Wajahnya kata-katanya. Aku sampai sempat menuduh dia adalah Krystin. Tapi kejadian itu terulang kembali. Dia datang dan -menghilang-

Aku Bukan ORANG KETIGA

Aku bukan ORANG KETIGA.
Kami hanya saling menemukan satu sama lain. Alam telah mengaturnya sebagaimana semua cerita di dunia ini sesungguhnya telah tertulis lengkap disertai alasan atas terjadinya. Tidak ada istilah ‘orang ketiga’ antara dia dan perempuan itu sebagaimana dituduhkan padaku. Tidak ada. Sungguh tidak ada. Kalaupun istilah itu terlontar sesungguhnya semata-mata merupakan ungkapan ‘ketidakberdayaan’ yang terpendam, kemudian bertransformasi menjadi ‘label buruk’ yang mengekor pada diriku. Perempuan yang nantinya akan dipanggil ‘jalang’ oleh semua orang ketika istilah ‘orang ketiga’ mulai digemakan.

Kami saling tergila-gila. Ya, aku lebih suka menggunakan istilah ini untuk mengawalinya karena kami begitu impulsif dalam segala hal. Ibarat terbukanya saluran air yang lama tersumbat. Luber begitu saja. Tidak terkendali. Seperti aliran air yang selalu mencari muara. Melebur. Menyatu. Lalu jadilah kami dua sisi puzzle yang saling menemukan. Kalian lihat bagaimana puzzle akan menyatukan bagian-bagian yang berkesimanbungan. Bagian-bagian yang sama. Itulah kami.

Lalu ketika istilah ‘orang ketiga’ muncul, aku akan bertanya ‘Nona, dimana kamu selama ini? Bagaimana bisa makhluk indah yang sama-sama kita puja ini menemukan aku?’. Aku akan menguraikannya dengan dinamika yang cukup mudah untuk dipahami. Pertama-tama akan kubeberakan sebuah fakta bahwa kebutuhannya akan keintiman tidak pernah terpenuhi. Keintiman disini lebih luas dari sekedar kuantitas pertemuan dan percakapan yang akrab. Ada seninya. Ada kualitasnya. Kuantitas nyatanya hanya akan menjadi sebuah rutinitas dan rasa bergantung yang abadi. Kuantitas disini aku mengibaratkan sebagai kegiatan membangun sebuah bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. Tidak. Bukan itu yang terjadi diantara kami. Sekali lagi, kami saling jatuh cinta secara manusiawi. Saling memberi kekuatan. Itu yang tidak dimiliki hubungan kalian. Kelemahan paling mendasar dalam membangun pondasi.

Mari kita tarik logika, bagaimana bisa makhluk indah yang sama-sama kita puja itu mencari-cari keintiman di luar bila kamu mengaku telah menyediakannya seperti menyiapkan makan. Pagi, siang, sore. Atau jangan-jangan kamu asal memasak, asal memberinya makan, asal rutin namun tidak tahu apa yang ingin dia makan. Kamu tidak tahu apa yang dia butuhkan. Asupan gizi macam apa yang mampu mengembangkan jiwanya. Kamu sengaja merakit bom waktu, Nona. Kamu sengaja menghancurkan dirimu sendiri. Kamulah yang sengaja mempertemukan dia dengan aku yang nantinya akan kamu sebut ‘jalang’ ini.

Percuma mencari-cari kesalahan orang lain karena akan membuatmu semakin menderita. Membuatmu tampak tidak berdaya. Lakukanlah sesuatu dengan senjata yang kamu namai ‘3 tahun’ itu. Sekali lagi, aku yang akan disebut ‘jalang’ oleh banyak orang ini tak patut kamu cemburui karena cemburu itu sendiri menunjukkan ‘ketidakberdayaan’. Ketidakmampuanmu menjadi aku yang dengan jujur akan kamu akui lebih hebat.

Dan untuk kali ini janganlah kamu memohon kepadaku untuk meninggalkan dia. Aku tidak pernah datang, dan tidak akan pernah pergi. Aku telah ada dan tertulis jauh sebelum kita tahu kejadian ini akan terjadi. Sekali lagi, alam menggerakkan kami untuk saling mendekat. Kita hanya manusia yang penuh keterbatasan. Selamat berperang dengan dirimu sendiri, Nona. Semoga sukses.

Yogyakarta, 03 Desember 2010
Menanti hujan mereda.