Kita bertemu di bawah senja yang telah menua tiga tahun lalu dan Jogjakarta begitu elok saat aku bersembunyi di balik punggungmu yang sarat liku pilu. Rindu sepekan yang kutahan tamat sesaat berganti riuh gaduh detak jantungku. Untuk pertama kali sejak delapan tahun berpisah, kembali aku bisa menyentuh kulitmu sehabis diterpa semilir angin dan pipiku merona seketika. Oh, lunglai kakiku diserbu ngilu yang berasal dari pintu hati. Tak bisa kupendam sumringah. Dan aku tahu, untuk bersamamu, aku tak perlu bermimpi dulu. Aku sudah jatuh cinta. Jatuh cinta sudah.
Resmi kuberikan hati tanpa basa-basi dan kau tukar dengan ingatan bergaransi seumur hidup. Ketika pelukanmu mengisyaratkan kesendirian diantara dua kota, aku berharap ini tak akan lama. Kita bisa lebih rindu dari hari ini. Atau bahkan tidak saling merindukan lagi karena semuanya mendadak basi. Tapi, aku tak peduli. Kamu, satu-satunya yang pernah memastikan hatiku, yang bahkan tak sebaik pemiliknya.
Ketika malam merambat perlahan, rupanya kita sama-sama tak ingin berpisah terlalu awal dan buru-buru mengucapkan selamat tidur. Aku telah menyitamu lebih lama dari dugaan kita. Canda tawa tak kunjung usai. Dan, diam-diam, kusimpan nafasmu dalam sel-sel darahku. Aku tahu ini tak akan lama. Temaram yang berasal dari sinar bulan memberiku petunjuk bahwa kamu lebih tampan dari ksatria berbaju besi dalam mimpiku. Bagaimana aku bisa bosan? Bahkan saat amarahmu berada di ujung bibir, daya pikat itu tak jua menyublim. Aku tak pernah bosan padamu, sama halnya dengan aku tak pernah bosan mencintaimu. Bila ternyata itu memberatkan, kamu boleh tidak mencintaiku. Tapi jangan membenci aku.
Berkali-kali kujejakkan kaki tanpa sepengetahuanmu, Jogjakarta masih menyapaku sahaja meski kutatap dengan nanar. Kadang-kadang. Ya kadang-kadang. Tapi, tak ada yang berubah. Aku masih berharap kita bisa bertemu di depan Gang Gondolayu, saling beku, dan tersenyum kaku. Tak apa. Aku masih berharap suatu hari kita berada di satu pameran buku, menjumput buku yang sama, berpandangan, lalu bergerak kikuk. Tak apa. Aku masih berharap kita berpapasan di jalan atau bertemu diatas Trans Jogja yang sedang melaju, berpandangan, lalu urung tersenyum. Tak apa. Aku masih berharap kita bisa saling mengobati setelah pelajaran panjang yang melelahkan ini, mengamit lenganmu lagi, dan duduk diam sambil mendengarmu mengumpat.
Senja tiada dalam sekejap. Angkasa bersenandung mendung. Aku yang berdiam di dalam taksi disambut rintik hujan. Mendadak pucat. Masih kuingat jelas kebekuan itu.
“Masuk!” katamu dingin. “sudah lama?”
“Dua jam”
“Oh..” Kamu menghela nafas berat. Aku pun demikian.
Percakapan kering itu, begitu menyesakkan dan membuat kepalaku kekurangan udara. Aku yang duduk di tepi tempat tidur, hanya mampu memandangi punggungmu yang lebih dingin dari embun pagi.
“Ini.. Terima kasih” Kamu sodorkan bukuku yang hendak kuinventariskan selamanya dalam kamarmu. “Aku belum sempat cari info dan brosur”
“Tidak apa-apa, Aku bisa cari sendiri nanti”
“Kemana, Mbak?” Tiba-tiba sopir taksi membangunkan aku dari lamunan.
“Kemana saja, Pak. Putar-putar saja dulu”
Aku sering tak tahu kemana tujuanku ketika kakiku memijak kotamu. Yang kutahu, kota ini selalu menarik-ulur aku untuk kembali. Selebihnya, hanyalah pengharapan-pengharapan kosong yang mungkin akan terjadi. Tapi, mungkin juga tidak.
Dari dalam taksi kutatapi jalanan mulai basah. Hujan kian deras. Orang-orang yang berkendara motor menepi, ada yang berteduh, ada yang mengenakan jas hujan. Kaca berembun. Pemandangan di luar sana perlahan mengabur. Aku belum juga memutuskan tujuan. Aku tidak tahu. Lalu kuambil ponselku. Kupasang status pada situs jejaring sosial.
Terdampar di Jogja tanpa tujuan, enaknya kemana?
Budi Sojoko: Malioboro aja, Jeng!
Geeta imoet bangetz: Oleh2 dunk, mba,,,,
Dina Atmodjo: beli buku di shopping atau belanja batik aja hehe
-sTeLLaNyaGLeNN-: m4Li0BoR0 ja, k4k. . . bliin ST3LLa baKpi4 eaaaa =D
Arrie: gang pathuk!
Popo: Gang Gondolayu, rumah depan kuburan!
“Gondolayu, Pak. Turun depan gang saja. Makasih”
“Ya”
Dan sopir taksi menambah volume radio. Mataku memejam, kutarik nafas delapan hitungan, kutahan delapan hitungan, dan kuhembuskan delapan hitungan. Lalu aku tersenyum pada ramahnya kotamu yang diguyur air langit.
Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung hitam tiba
Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah, lalu gerimis langit
pun menangis
Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Dan bukan menyerah untuk berpisah…
(KLa Project – Gerimis)
oleh: Sepotong Rindu Untuk Embun ( http://catastrovaprima.wordpress.com/ )