Pada awalnya aku tak mengenal dia. Sama sekali tak mengenal. Aku malah sedikit menghindar. Karna dia terlihat seperti preman yang biasanya berada di terminal-terminal itu. Hii aku takut melihatnya. Namanya Dimas. Tinggalnya persis di depan kamar kos ku. Umurnya sekitar 23 tahun. Kuliah di salah satu Universitas swasta di Yogyakarta. Hanya itu yang aku tau dari laki-laki yang bernama Dimas berbadan tinggi besar.
Minggu ini aku memutuskan untuk mengisi hari dengan duduk di teras depan kos ku. Menikmati secangkir kopi dan menulis blog seperti hari-hari biasanya. Tiba-tiba terdengan suara motor. Seperti ada yang datang. Biarlah. Aku tak peduli. Setelah aku lihat. Hah? Aku terbengong kaget. Ternyata yang datang adalah Dimas. Penghuni kamar kos depan kamarku. Padahal aku takut dengan tampangnya. Aku coba untuk sedikit tenang. Berpura-pura untuk tidak takut. Dia melewatiku. Aku sedikit meliriknya. Dia diam saja dan langsung masuk kedalam kamarnya. Hufft.. Aku baru bisa bernafas lega setelah orang itu lewat. Langsung ku lanjutkan saja lagi kerjaanku yang sempat terputus. Karna baru saja ada 'monster' yang lewat. Haha. Sebenernya si Dimas itu cakep juga ya? Tapi nyeremin. Hahaha. Pikirku dalam hati.
"Hallo"
Tiba-tiba ada yang mengejutkanku dengan menepuk bahuku dari belakang. Dan ternyata itu adalah Dimas. Aku kaget setengah mati. Rasanya jantungku ini mau copot melihatnya.
"Eh.. Ha- Ha- Hallo juga"
Balasku dengan gugup dan deg degan. Panas dingin aku dibuatnya.
"Lagi ngapain nih?"
Dengan santanya dia langsung duduk di kursi persis disebelahku sambil bertanya padaku.
"Eh.. Ini lagi, ini apa, online aja, hehe"
Aku jawab sabil garuk-garuk kepala bingung.
"Oh, hobi online ya? haha"
Aduh bego! Nih orang ngapain lagi nanya-nanya ke gue. Udah tau gue takut sama dia. Jawabku dalam hati.
"Eh kok diem aja sih? Jawab dong. Eh iya, nama kamu siapa?? Aku Dimas"
Katamu sambil menyodorkan tanganmu.
"Hmm.. Aku aku Putri"
Ku sodorkan tanganku.
Setelah perkenalan jayus itu aku dan Dimas sering ngobrol-ngobrol. Entah itu masalah nggak penting. Masalah motor. Masalah kopi. Dan apa pun yang sebenernya nggak penting untuk dibicarain.
"Lo jatuh cinta ye sama Dimas?" Sentak sahabatku setelah aku curhat dengannya mengenai Dimas.
"Eh gila ya lo! Enggak lah. Dia tuh nyeremin tauk!"
"Ah udah deh lo ngaku aja, gue udah apal ciri-ciri lo kalo lagi jatuh cinta. Udah ngaku aja"
Aku nggak bisa bilang apa-apa. Aku cuma bisa diem aja. Cuma mikirin. Apa gue bener jatuh cinta sama Dimas?
Waktu pun terus berputar. Kedekatanku dengan Dimas semakin dekat. Seperti ada hubungan khusus diantara kita. Teman. Ah bukan, sepertinya lebih dari seorang teman. Pacar. Bukan juga, dia tidak pernah mengungkapkan rasa cinta atau apa kepadaku. Apa lagi menembakku.
Semakin hari dia semekin sering mengajakku jalan. Entah itu sekedar makan. Atau jalan-jalan di mall. Atau membeli baju di FO. Bahkan kita pernah membeli baju yang kembar. Seperti seorang soulmate. Hihi
Tapi satu hari yang tidak pernah aku duga. Dan tidak pernah aku inginkan datang. Dia pergi menghilang entah kemana. Tanpa meninggalkan sepucuk surat untukku. Tanpa mengirimkan sms. Ataupun telpon. Aku sangat bingung. Aku mencarinya sampai keluar kota. Ke Kudus. Tempat asal seorang laki-laki yang selalu menemaniku setiap saat. Tapi hasilnya nol besar. Tidak ada yang tau keberadaan dia dimana. Aku sudah bertanya kepada ibu kos ku. Dia bilang setelah membayar biaya kok sebulan dia langsung berkemas-kemas dan pergi. dan kemana aku? Mengapa aku diam saja? Tidak mendatanginya. Tapi kenapa kamu nggak bilang au dulu Dimas? Tanyaku dalam hati. Setiap hari aku mencarinya. Sampai aku cari di kampusnya. Teman-temannya tidak ada yang tau di mana dia sekarang. Dan akhirnya aku menyerah. Aku tidak tau harus mencarinya dimana.
"Put, kamu kenapa?"
Tanya seorang teman dekatku. Aku hanya menggeleng. Sambil ku tekuk dan ku peluk lututku. Aku hanya diam.
"Kamu nggak pernah berangkat kuliah. Nggak pernah sms aku. Nggak pernah online lagi sekarang. Nggak pernah perigi-pergi lagi. Kamu nggak pernah ketawa. Kamu kenapa sih?"
Sekali lagi aku hanya menggeleng.
Senin, 06 Desember 2010
Menghilang..
Aku telah kihilangan sebagian dari hidupku. Sebagian dari nafas ku. Sebagian dari hari-hariku. Sekarang semuanya telah hilang. Hilang entah kemana. Di telan bumi mungkin. Yaah.. Mungkin saja.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar