BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 19 September 2015


Aku tidak akan bersamamu hanya karna aku tidak ingin sendiri. Sediri adalah teman baik, tidak begitu menakutkan. Bahkan dengan sendiri aku bisa melakukan apa saja yang ku inginkan. Sendiri memiliki caranya sendiri untuk membuatku bahagia tanpa teman-teman dekatku. Sendiri menyenangkan, dia sangat lucu sampai-sampai dia bisa membuatku lupa sejenak akan kesibukanku sehari-hari. Sendiri tidak membosankan, semoga. 

Aku tidak ingin bersamamu hanya karna aku bosan dengan sendiri. Aku tidak ingin melupakanya begitu saja. Jelas saja, selama ini hanya sendiri yang menemani hari-hariku dalam keadaan apapun. Dia selalu setia dan selalu bersedia menemaniku. 

Aku tidak akan bersamamu jika denganmu akan membuatku melupakan sendiri. Aku tidak akan bersamamu jika denganmu aku tidak akan merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan dengan sendiri. Aku tidak akan melupakan sendiri, dan memang sepertinya aku tidak bisa melupakannya.

Aku ingin bersamamu karna aku telah menemukan refleksi diriku dalam dirimu. Aku ingin bersamamu karna telah nyaman meletakkan waktu dan hati pada sandaran bahumu. Aku ingin bersamamu karna denganmu aku dengan mudah melepaskan segala penat pekerjaanku. Dengan begitu bersamamu kita bisa melakukan menyenangkan sendiri. 

Tidak seharusnya kita berpijak diantara ragu yang terbatas. Seperti berdiri ditengah kehampaan, mencoba untuk membuat pertemuan cinta.

Lalu sekarang kita berdua sedang duduk di kursi taman yang terlihat sudah lumutan dan memandang ke arah sebuah danau dengan segala keindahan alamnya. Pada sisi kiri terlihat sebuah keluarga dengan seorang ibu yang sangat sibuk sedang mengurus 3 anaknya yang kecil-kecil. Ayahnya sedang sibuk menyiapkan pancing untuk anak laki-lakinya. Saat ini, mungkin kamu sedang memikirkan perempuan bergigi gingsul lain yang bukan aku. Sedangkan aku sedang merindukan laki-laki yang dulu menemaniku bermain bersama sendiri. 

Setelahnya, kita akan kembali kerumah masing-masing, membersihkan diri lalu beristirahat dan bersiap untuk kegiatan besok pagi. Lalu aku tidak pernah mendengar suara ketukan pintu pada pukul 7 malam lagi. Tidak tahu keadaan taman di pinggir danau yang sudah diperbaharui dan aku bermain dengan sendiri, sendiri. 



Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tidak di ikhlaskan. Bertiup tak berarah. Berarah ke ketiadaan. Akankan kelak bisa bertemu dalam perjumpaan abadi....

0 komentar: