Setiap hari, bahkan setiap jam, menit, dan detik, kutatap semua siluet bayangan yang selalu muncul dalam cahaya senja yang berpendar luas. Tak pernah sekalipun aku alpa melihatnya, bersama sebuah kursi goyang dengan ukiran khas Jepara yang sangat indah. Disinilah aku memecah segala problematika, walaupun hanya sesaat. Dan, kisah itu akan berkupul lagi juka mataku telah terpejam di waktu malam.
Tak ada yang pernah memperhatikan kebiasaanku ini. Kau tahu mengapa ? Karena seluruh keluargaku teramat sibuk dengan urusan masing-masing. Ibu mengolah papeda. Biasanya, pukul 01.00 dini hari ibu baru menyelesaikan pekarjaannya. Ayahku, seorang nelayang yang pasti bertugas dimalam hari, tak pernah sebelumnya kulihat nelayan berlayar disiang bolong.
Betapa padatnya akivitas dirumah ini. Mulai sore hingga malam, kau kan merasakan keheningan yang luar biasa. Tapi, keheningan itu akan membuncah ketika mentari mulai sayup-sayup membuka mata. Dipinggir oantai, tepat dimana rumahku menghadap, saat itulah sepanjang pesisir dipenuhi orang-orang yang berdesakan membeli hasil-hasil laut. Kebanyakan dari mereka lebih suka membeli langsung dari nelayan daripada ke pasar ikan yang jaraknya hampir 10 km dari rumah-rumah penduduk.
Dari balik jendela, aku bisa memperhatikan keramaian itu. Terkadang, seseorang mendapatiku tengah melamun seraya menatap lekat ke arah pesisir pantai. Namun, selama ini belum ada satu orangpun yang menanyakan hobiku itu. Biarlah, aku pun tak ingin ada yang tahu. Aku ingin menikmati bayangan itu sampai nanti kumenutup mata.
Ketika seja mulai menjelang, kau pasti merasakan nuansa yag berbeda. Dunia ini terasa damai, teneng, apalagi juka merasakan redup-redup masra yang selalu tersirat dalam senja.
Cahaya jingga memancar dan aku telah bersiap duduk di atas kursi Jepara. Hanya disinilah tempatku terpekur, menatap sanja yang sungguh menawan.
Tak salah apabila ada seseorang ingin memberikan sepotong senja pada kekasihnya. Aku setuju, sagat. Namun, sepotong senja itu tidak akan ku berikan kepada kekasihku. mungkin lebih baik untuk diriku sendiri, menikmatinya sepenuh hati. Dan...., aku bisa menyimpannya dalam stoples kaca, kusimpan disisi tempat tidurku, agar setiap kuterbangun dari mimpi aku dalam melihat keindahannya. Oh, andai anganku jadi nyata. Ya, sumpah mati aku rela mengorbankan segala yang kumiliki.
"Fen, kau melamun?" sekonyong-konyong seseorang muncul dari balik pintu.
"Ibu? E... eh, ah, tidak!" sangkalku.
"Jangan mengelak. Jelas-jelas kau duduk di situ!"
"Loh, memang jika aku duduk di sini artinya melamun, Bu?"
"Ya, begitulah. Sejak dulu, ketika Ibu masih seusiamu, nenekmu slelau duduk dan merenung di sana."
"Lalu, ibu pernah mencobanya?"
"Hmmmmmm........ Ya, tai sekarang tidak lagi."
"Kenapa, Bu? Bukankah duduk di sini seraya menatap senja adalah suatu kenikmatan yang langka?"
"Sekarang Ibu tidak suka, Fen. Dengan begitu, Ibu akan selalu masuk dalam khayalan. Dan, itu tak bisa membuat perut Ibu kenyang."
Aku tersenyum kecil sembari beringsut dari dudukku.
"Kalau begitu, aku akan membuktikan kepada Ibu bahwa menkmati senja bisa membuat perut kenyang."
"Sampai kapan pun, rasanya tidak mungkin," cetus ibu.
Aku berlalu meninggalkan beliau yang masih saja merenung dengan tatapan kosong. Oh, Tuhan, aku lupa tidak menyanyakan mengapa hari ini ibu pulang lebuh cepat.
Entah mengapa langkah kakiku mengarah ke pinggir pesisir yang dikerumuni anak-anak seusiaku.
Pasir putih yang kujajaki tampak sangat sempurna karena cahaya senja berpendar ke dalam unsurnya. Aku mencoba masuk dan ikut berbaur dengan mereka.
"Hei, Fen! Ayo kita menari saureka-reka!" ajak Retno, teman sekelasku.
Kaki untuk menginjak bagian tengah empat bilah gaba-gaba yang ditabuh secara silang.
Aku hanya memperhatikan mereka dengan senyum sumringah. Jarang sekali aku menikmati suasana saperti ini. Mereka sangat lincah menari, begitu pun para pemain bilah gaba-gaba , irama yang mereka lantunkan sangat teratur, apalagi saat kutambah suasananya dengan menatap senja di ujung sana.
Kedua bola mataku tak jua beralih dari senja nun jauh di atas sana. Telingaku pun tak lepas dari dentingan-dentingan bilah gaba-gaba. Begitu sempurna. Ini adalah metode baru bagiku, menikmati senja yang lebih nyaman.
"Fen, kau tak ingin ikan bakar ini?" tawar Leo, lelaki yang usianya 2 tahun lebih tua dariku.
"Kapan kau membakarnya?" tanyaku sambil mencabik secuil ikan bakar itu.
"Apa kau tak merasakan asap yang mengepul disekitarmu sedari tadi?"
Segera kutolehkan pandangan ke belakang. Ya, ampun! Di belakangku memang tercecer sisa-sisa pembakaran, seperti arang dan sedikit bara-bara api.
"Maaf, aku terlalu menghayati senja itu!"
"Tak apa. Kau menyukai senja, Fen?"
"Tentu. Kau?"
Akhirnya, kami berdua membahas senja yang berkilau di hadapan sang langit. Sesering apa pun kamu membicarakannya, kuyakin senja tak akan pernah habis untuk diperbincangkan.
Tak terasa, diam-diam senja tertutup awan hitam, berganti menjadi sinar rembulan yang menyembul.

"Leo, aku harus pulang. Besok aku pasti akan datang lagi ketempat ini," gumamku seraya melemparkan secercah senyuman.
"Baiklah. Tapi, aku harus membersihkan sisa-sisa kayu bakar itu," jawabnya lugas.
Aku berlalu, sebelumnya kututup dengan lambaian tangan kearahnya. Namun, ada satu hal yang menyita perhatianku. Dengan sisa-sisa kayu bakar, Leon mengukirkan namaku diatas pasir putih. Jujur, aku tak dapat menyembunyikan guratan kegembiraan dibibirku. Dan sesaat kemudian, namaku tersapu oleh gelombang air pantai, terhapus, diantar jauh kedalam laut yang entah berujung di mana. Di dalam senjakah? Semoga
*
Ada saatnya aku bisa tersenyum tanpa melihat senja. Ada kalanya pula aku bersedih bukan karna tak malihat senja. Semua pasti terjadi. Aku sadari kanyataannya. Namun, sampai saat ini, aku belum pernah menemukan keistimewaan salain menatap senja, senja, dan senja.
Tepat di pinggir pantai, lagi-lagi kulihat mereka bermain, menari saureka-reka, atau hanya sekedar berenang di tepi. Senja belum tampak keluar dari persembunyiannya , pantas saja Leo tak ada di situ.
Untuk kedua kali, aku kembali berbaur dengan mereka. Kini aku tak menolak ketika mereka megajaku menari saureka-reka.
Aku menari mengikuti ketukan bilah gaba-gaba. Selincah mungkin aku harus melangkahi celah bilanh yang dimainkan si pemusik. Sangat sulit karna aku tak terbiasa menari-nari seperti ini
kau tahu betapa tajamnya bilah-bilah ini? Rasanya seperti tergores pisau, lalu tertusuk-tusuk jarum. Begitulah kesakitan yang kurasa saat kakiku terjepit gaba-gaba. Serabutnya yang masih kasar turut masuk dan memproses rintihan di kakiku. Auw, sulit menggambarkannya.
Tergopoh-gopoh, aku menjauh dari arena permainan. Aku meluruskan kedua kakiku sambil sesekali melirik ke arah cucuran darah yang menetes perlahan. Tak kusadari, gelombang air pantai menghampiriku dan membasahi kakiku yang terkena luka. Bayangkan, rasa sakit itu semakin bertambah. Air asin bergulir cepat, Bersatu dengan darah merahku.
Senja di ujung langit telah muncul. Sinar jingganya merasuki luka-luka di tubuhku. Aku mendongakkan kepala, kembali melakukan rutinitasku sehari-hari. Goresan yang ada di kakiku seketika tak berasa. Justru terasa nikmat. Menurutku, inilah senja yang teramat spesial, dari senja-senja yang telah beribu kali kulihat.
"Retno, dimana Leo?" tanyaku kepada Retno yang ikut duduk disampingku.
"Hari ini aku belum melihatnya, Fen. Memangnya ada apa?"
"Tidak. Aku hanya penasaran aja. Padahal kemarin aku telah berjanji kepadanya kalau aku akan datang ke sini."
Retno tak menanggapi. Ia masih saja sibuk membersihkan ikan-ikan laut yang baru didapatnya.
"Kau tak berminat menghayati senja, Ret?"
"Hah, aku saa sekali tak tertarik. Hanya membuang-buang waktu, Fen. Lebih baik aku menari saureka-reka daripada menatap cahaya yang menyilaukan," tukasnya.
"Oh, ya? Tapi, aku tak terlalu pandai menari."
"Nanti aku ajari kau menari!"
*
Hari ini, kembali terulang lagi. Retno mengajariku menari saureka-reka yang benar. Ternyata tak ada trik-trik khusus yang perlu ku pelajari. Cukup berlatih dan berlatih. Ya, tapi untuk kedua kali, kakku kembali terjepit bilah gaba-gaba.
Belum sembuh lukaku yang kemarin, kini ditambah dengan goresan yang sangat mengganggu. Sudah, aku tak mau lagi memainkannya. Aku tak ingin kakiku pincang hanya gara-gara bilah gaba-gaba yang tajam itu.
Maka, kulakukan lagi. Menikmati senja dengan kaki terluka. Saat seperti ini memang menghantarkan. Namun katika kudapati luka itu, sakitnya bukan main.
Kutatap senja yang baru saja muncul, masih segar, dan belum dinikmati banyak orang. Berbeda dari biasanya, kurasakan banyak perubahan dalam senja hari ini. Di ujung suasana anak anakyang sedang menari saureka-reka, seperti yang biasa dilakukan di pantai ini menjelang sore. Kemudian, di ujung bayangannya, kulihat ada wajah diriku dan Leo yang saling bertatapan seraya menggenggam pisau yang mengilat. Secepatnya, kulihat diriku menggoreskan pisau itu ke lenganku sendiri.
*
Dan, ini adalah hal yang jarang terjadi. Suatu penghayatan yang sangat luar biasa dari sebelumnya. Aku menemukan cara menikmati senja yang lebih dahsyat. Setiap sore manjelang, telah kusiapkan ancang-ancang untuk mengoreskan pisau tepat ke kulit lenganku. Saat darah mengucur, aku sengaja menyatukannya dengan cucuran merah yang juga keluar dari kulit lengan Leo. Mereka akan berbaur dan kelak membentuk senja baru yang selalu muncul dibalik jendela. Hanya aku dan Leo yang dapat menatapnya. (*)

0 komentar:
Posting Komentar