BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 15 Januari 2011

......

Setiap hal dalam kehidupan memiliki setiap ketidakwajaran yg terlihat wajar. Teringat akan ucapanmu mengenai semua orang berhak untuk dapat kebahagiaan, sepatutnya aku akan mengejawantahkan hak kebahagiaan tersebut sebagai ungkapan syukur bahwa aku masih memiliki kehidupan, dan itu sudah kuamini laiknya kebahagiaan yang dimaksud. Aku bahagia, aku tidak bahagia, bagi mereka bahagia, bagi orang lain tidak, bagiku persetan dengan kebahagiaan. Sudah diberi nyawa sebagai manusia dan dilahirkan sebagai seorang Muslim saja sudah merupakan kebahagiaan yang tak terkira. Lalu apa? Apakah aku harus marah pada dunia? -Jika saja aku merasa tak bahagia dan terkadang aku masih beranggapan itu- Tapi segera saja kutepis dengan bentuk syukurku tadi, walaupun itu terasa hambar dan papa. Dalam sunyi aku menangis, dalam sunyi aku merinding, dalam sunyi aku semakin menikmati. Sepi. Sepi dan sepi. Lalu selalu saja aku mengumpat; ‘anjing’, dalam hati, dalam benak, terkadang malah secara lisan, bila menemukan momentum yang memungkinkan untuk menutupi kemarahanku yang sebenarnya.

Untuk itulah aku menyukai kesunyian, namun aku telah muak dengan sunyi, dengan sepi, itu semua termanipulasi dalam sosialisasi-sosialisasi usang yang kuciptakan dan coba kurenungi baik-baik. Kemudian aku mencoba menikmati keramaian, yang tenang, yang berirama dan terkadang bergejolak. Karena itulah aku mensyukuri kawan-kawan maupun musuh yang datang silih berganti, dan pernah juga mereka bertukar peran dan fungsi. Namun, mereka adalah harta-hartaku yang berharga. Bentuk manifestasi anugerah Tuhan yang dititipkan padaku. Namun, sejujurnya aku masih merasa mengkhianati Tuhan, aku malu pada-Nya, sekaligus sangat-sangat berterimakasih pada-Nya, dan aku bersyukur sampai saat ini aku tak pernah marah pada-Nya. Jangan sampai itu terjadi, karena aku akan menjadi makhluk paling menjijikkan, karena Iblis pun tak pernah berani marah pada-Nya.
Aku heran. Semenjak beberapa waktu berselang, aku menyadari kalau aku tak pernah benar-benar memiliki rasa cinta yang tulus. Walau demikian, aku masih memiliki rasa sayang yang layak. Kalau begitu, apakah bedanya ‘cinta’ dan ‘sayang’. Bahkan dalam bahasa Inggris pun kedua kata tersebut dijabarkan dalam definisi yang sama. Entah dengan bahasa kita. Tapi, aku memiliki pedoman tersendiri dalam memaknai kedua kata tersebut.

‘Cinta’ terhadap lawan jenis, aku pernah memproklamirkan bahwa aku sudah menemukan cinta. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa itu semua hanyalah wacana semu dari perasaan yang selalu kontemporer. Lalu, aku menyadari bahwa untuk menemukan ‘cinta’ harus mengalami proses ‘kasih sayang’ yang berbelit-belit dan overdramatik. Harus mengalami proses take and give yang tulus dan membahagiakan. Untuk itu, bagiku saat ini rasa ‘cinta’ku yang kuanggap tulus baru terpaut pada 2 hal; Tuhan dan Ayahku. Untuk masa selanjutnya, mungkin rasa itu akan mencakup kepada anak dan suamiku kelak.

‘Sayang’ perasaan ini begitu umum melanda setiap manusia tanpa mereka pernah menyadarinya. Rasa ini juga merupakan elemen kuat sekaligus akar dari ‘cinta’. Aku menyayangi kawan-kawanku, musuh-musuh, wanita-wanita itu dan [semoga] diriku sendiri. Bahkan ada ungkapan; ‘dekatkan musuhmu lebih dekat dari kawan dekatmu’. Hmm..Tapi aku tak sehebat itu. Bahkan mungkin saja musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Rasa ini juga bertingkat-tingkat, sama halnya seperti tingkatan rasa ‘cinta’. Lebih tepatnya rasa ini dapat dikatakan selalu dinamis dan progresif, bertambah, berkurang, berulang-ulang sampai ke arah titik di mana dapat dikatakan mencapai ‘cinta’ atau ‘benci’ atau mungkin tetap menjadi rasa sayang yang ‘biasa’.

Aku terlalu lelah. Aku sangat merindukan rasa sayang yang menggebu-gebu seperti masa yang dulu. Tapi entah kenapa, kemarin dan saat ini atau mungkin selanjutnya tak pernah mencapai hasil yang bagiku akan membahagiakan orang lain. Aku seakan telah dikecewakan oleh berbagai pengalaman hidup yang sangat akumulatif dan cenderung memberi semacam peringatan untuk tidak terbuai oleh kefanaan ekstase cinta manusia. Cinta yang sejati hanya milik Tuhan. Tapi setidaknya wujud kecintaan kita kepada-Nya dapat diaplikasikan melalui proses pencarian cinta itu sendiri.

Inilah yang menjadi alasan-alasan utama tentang sikapku terhadap rasa cinta dan sayang. Aku telah menjadi orang yang sedingin embun dan membeku terbungkus selimut pagi. Tapi aku bukanlah orang yang menyesali hidup. Aku tak marah pada Tuhan. Aku mencintai-Nya seperti aku mencintai hidup, walaupun aku sedikit jenuh dengan kehidupan.

0 komentar: