BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 01 Januari 2011

Kopi..


Ini tentang dingin yang menyekap hati. Hatiku. Bukan hatimu.
Pagi itu, sepanjang mata memandang, aku hanya melihat kabut tipis yang turun menyelimuti pemandangan. Udara kian basah, rimbun dedaunan dilapisi embun, dan para malaikat sibuk mengemasi mimpi orang-orang yang tengah lelap. Sunyi yang panjang itu menerkam hatiku yang patah hingga ngilunya terasa sampai tulang. “Ah, sudahlah, sudahlah” gumamku berat. Aku enggan menangis, tapi airmata ini ingin meluap. Aku ingin marah, tapi amarahku tak bertuan. Dan aku hanya bisa diam.

Pelan-pelan kabut tipis sudah menutupi bukit-bukit hijau yang menularkan damai dan sejuk pada sepasang mata. Aku terpaku sesaat dalam hening yang tak berbatas. Berhari-hari aku mencoba memahami tentang betapa tidak absolutnya kehidupan ini. Aku ingin bersahabat dengan kata ‘sementara’, ‘sebentar’ dan ‘tidak pasti’ tanpa harus merasa berduka atau kehilangan. Lebih tepatnya, aku ingin mengakui bahwa semua yang terjadi telah tertulis jauh sebelum kehidupan ini ada. Tak perlulah menjadi terlalu emosional dan sentimental. Tak perlu mendramatisir. Bahkan duka, bahagia, kehilangan, cinta, itu semua adalah rekayasa alam yang begitu kontemporer. Lalu aku menyadari bahwa manusia berada pada ruang ‘antara’. Baik–buruk. Hitam-putih. Suka-benci. Duka-suka. Tinggi-pendek. Kaya-miskin. Berat-ringan. Dan sejenisnya. Sulit. Semua itu sulit. Aku tidak mampu. Bukan, aku meralatnya. Belum mampu. Aku sungguh belum mampu.



“Mau kopi?” Seseorang tiba-tiba menyentuh pundakku.
Aku menoleh dan pria bermata indah itu tersenyum.
“Mau” balasku.
“Tunggu ya” katanya. Aku mengangguk.


Selang beberapa menit pria yang kupanggil Dana itu datang dengan membawa dua cangkir kopi pekat yang uapnya masih mengepul. Disodorkannya satu padaku, lalu kuterima dengan senyum mengembang.


“Makasih, Dan” ucapku.
“Masih bersahabat dengan ‘sementara’, ‘sebentar’, dan ‘tidak pasti’?” tanya Dana.
“Iya” Kucicip kopi sedikit.
Kami berpandangan sebentar. Matanya yang bening dan teduh itu seolah mentransfer kekuatan maha dahsyat.
“Kamu pasti lelah” Dana menengadahkan tangannya, mengisyaratkan padaku untuk memasrahkan gundah. Kuletakkan tanganku diatas telapaknya, lalu dia menggenggam tanganku erat. “ini juga akan sementara” Aku mengangguk.
“Ya, aku lelah. Energi itu dipompa hari demi hari, seperti balon. Dia terbang melayang-layang di bawa angin ke angkasa. Tapi matahari terlalu panas. Udara dalam balon terlalu penuh. Lalu meletus, jatuh bercerai berai ke tanah. Ada yang tersangkut pada ranting pohon, ada yang masuk sumur, ada yang tinggal di atap rumah. Habis. Segala sesuatu yang telah bercerai berai, telah pecah, telah remuk, tak mungkin bisa bersatu lagi” cerocosku.

Dana menatapku takjub. Akhirnya dia tertawa.
“Kamu bisa ngomong banyak juga ya?!” ujarnya.
“Iya lah, emangnya kamu doang?” Aku yang tersindir tak mau kalah disusul gelak tawa Dana yang renyah.
Tiba-tiba hening.
Matahari pelan-pelan naik dan mengusir kabut yang romantis itu.
“Kamu tahu apa yang kita cari dari secangkir kopi?” tanya Dana. Kami berpandangan sekilas. Mata di balik kacamata itu membiusku pelan-pelan tanpa kusadari.
“Pahitnya” kataku.

0 komentar: